NowWhyTwo Moscow

Wadah bicara. Kuatkan Iman Teruskan Amal~

Mari Mengulangkaji: Definisi Puasa


Kata puasa dalam bahasa Arab berasal dari kata ash-shaum atau ash-shiyam yang pada dasarnya bermakna menahan diri dari suatu perbuatan.

Karenanya, seekor kuda yang dalam keadaan terikat dinamakan dalam keadaan shaaim. Kata ash-shaum/ash-shiyam tersebut adalah menahan diri secara mutlak, artinya menahan diri dari segala sesuatupun juga. Seseorang yang diam tidak berbicara atau dalam keadaan terdiam dinamakan seorang yang shaaim.

Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya saya bernazar kepada Ar-Rahman untuk diam,” Kata shaum yaitu diam tidak berbicara.

Tidakkah selanjutnya Allah berfirman pada ayat yang sama, “Maka sekali-kali saya tidak akan berbicara pada hari tersebut kepada seorang manusiapun juga.”

Demikian juga kaum Arab menamakan waktu dimana matahari tepat berada diubun-ubun, bahwa matahari telah shaamat, dikarenakan matahari telah tertahan dari pergerakannya.

Lantas syariat Islam mempergunakan kata ash-shaum ini sebagai suatu bentuk menahan diri dari hal tertentu pada waktu tertentu, dengan demikian pemakaian kata ash-shaum/ash-shiyam yang dalam artian etimologi Arab bermakna menahan diri, beralih kedalam pemakaian syara’.

Definisi ash-shaum/ash-shiyam di dalam tinjauan syara’, “yaitu sebuah ibarat yang mengungkapkan bentuk menahan diri atas beberapa hal tertentu pada waktu tertentu.

Al-’Allamah Ibnu Al-Amiir Ash-Shan’ani mengatakan, “Didalam tinjauan syara’ -makna ash-shaum/ash-shiyam- adalah bentuk menahan diri dari beberapa hal tertentu, yakni menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami istri serta beberapa hal lainnya yang terlarang oleh syara’, yang dilakukan pada siang hari dalam kondisi yang disyariatkan.”

Dan beberapa ulama menambahkan dalam definisi diatas, “Suatu bentuk peribadatan kepada Allah dengan menahan diri…”

Termasuk juga yang terlarang dan seseorang harus menahan diri pada saat melakukan ash-shiyam tersebut adalah menahan diri dari perkataan sia-sia, perkataan keji, ucapan yang haram dan tercela berdasarkan beberapa hadits yang berisikan larangan atas hal tersebut disaat seseorang melakukan ash-shiyam.

Wallahu a’lam.

(Lihat: Al-Fath 4/132, Al-Hawi Al-Kabir 3/394, Bada’i Ash-Shana’i 2/113, Al-Mughni 3/2, Al-Inshaf 3/269, Subul As-Salam 2/305 dan Asy-Syarh Al-Mumti’ 6/310)

Sumber : http://www.darel-salam.com/

September 4, 2009 - Posted by | Ibadah, Tazkirah |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: