NowWhyTwo Moscow

Wadah bicara. Kuatkan Iman Teruskan Amal~

Ketidakpastian Yang Disengajakan

Menanti sebuah malam.

Menanti atau mencari dan memburunya?

Lailatul Qadar adalah malam yang pasti datang. Jika menantinya itu hanya dengan sekadar berjaga malam, maka orang-orang yang bersekang mata tanpa berbuat apa-apa itulah yang beruntung dilintas kehadiran malam itu. Sesungguhnya ia bukan malam penantian, tetapi malam pemburuan dan pencarian.

Entahlah di malam 21, atau malam 23, atau malam-malam ganjil yang lain… Lailatul Qadar dianugerahkan. 9 Ramadhan yang ditempuh Rasulullah SAW di sepanjang hayat Baginda selepas pensyariatan ibadah puasa, menyebabkan riwayat-riwayat tentang Lailatul Qadar hanya tersimpul sebagai suatu anugerah yang diberi pada 10 malam terakhir Ramadhan itu.

“Mengapa tidak ditetapkan sahaja satu malam yang khusus bahawa itulah malam Lailatul Qadar?” ada yang bertanya.

“Anta cadangkan malam yang mana?” saya pun bertanya seada-adanya.

“Malam 27 barangkali” katanya.

“Maka beruntunglah penjual minyak tanah dan pelita untuk malam tujuh likur itu ya!” saya bergurau.

“Eh, ke situ perginya ustaz” kata beliau.

Continue reading

September 10, 2009 Posted by | Ibadah, Tazkirah | | Leave a comment

Pantasnya Masa Berlalu

Seperti tidak terasa, begitu pantas ramadhan berlalu
 meninggalkan kita semua.
Apa khabar iman?
Bagaimana amal?

Masih tidak terlambat lagi untuk menambah amal kita,
untuk meningkatkan iman kita.
Sentiasa perbaharui "nawaitu" kita, untuk apa kita bersusah payah
menahan diri selama sebulan ini.
Adakah hanya semata-mata atas dasar untuk menunaikan
kewajipan rukun Islam ke-4,
habis sebulan, beraya sakan?
Masih ada masa untuk bermuhasabah.

September 4, 2009 Posted by | Tazkirah, Video | | Leave a comment

Mari Mengulangkaji: Definisi Puasa

Kata puasa dalam bahasa Arab berasal dari kata ash-shaum atau ash-shiyam yang pada dasarnya bermakna menahan diri dari suatu perbuatan.

Karenanya, seekor kuda yang dalam keadaan terikat dinamakan dalam keadaan shaaim. Kata ash-shaum/ash-shiyam tersebut adalah menahan diri secara mutlak, artinya menahan diri dari segala sesuatupun juga. Seseorang yang diam tidak berbicara atau dalam keadaan terdiam dinamakan seorang yang shaaim.

Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya saya bernazar kepada Ar-Rahman untuk diam,” Kata shaum yaitu diam tidak berbicara.

Tidakkah selanjutnya Allah berfirman pada ayat yang sama, “Maka sekali-kali saya tidak akan berbicara pada hari tersebut kepada seorang manusiapun juga.”

Demikian juga kaum Arab menamakan waktu dimana matahari tepat berada diubun-ubun, bahwa matahari telah shaamat, dikarenakan matahari telah tertahan dari pergerakannya.

Lantas syariat Islam mempergunakan kata ash-shaum ini sebagai suatu bentuk menahan diri dari hal tertentu pada waktu tertentu, dengan demikian pemakaian kata ash-shaum/ash-shiyam yang dalam artian etimologi Arab bermakna menahan diri, beralih kedalam pemakaian syara’.

Continue reading

September 4, 2009 Posted by | Ibadah, Tazkirah | | Leave a comment